3 Perbedaan Digital dan Offline Marketing yang Penting

Table of Contents

Apakah kamu belum mengetahui perbedaan digital dan offline marketing? Padahal, kedua jenis pemasaran tersebut benar-benar berbeda, mulai dari penerapannya hingga platform yang digunakan untuk menerapkannya.

Pemasaran sendiri memang selalu berubah seiring dengan berjalannya waktu, apalagi jika diiringi dengan perkembangan teknologi yang pesat.

Pada awalnya, orang-orang memang melakukan pemasaran secara offline karena memang sebelumnya tidak ada jaringan yang dapat menghubungkan orang-orang secara digital.

Namun, berkat perkembangan teknologi, sistem pemasaran sudah dapat dilakukan secara digital dengan mudah. Lantas, apa saja sih perbedaan digital dan offline marketing?

Pengertian Digital Marketing

Istilah digital marketing mengacu pada penggunaan saluran digital untuk memasarkan produk dan layanan agar dapat menjangkau konsumen.

Jenis pemasaran ini melibatkan penggunaan website, perangkat elektronik seperti smartphone atau komputer, media sosial, mesin pencari, dan saluran serupa lainnya. Digital marketing mulai populer seiring dengan kemunculan internet pada 1990-an.

Digital marketing melibatkan beberapa prinsip yang sama dengan pemasaran tradisional dan sering dianggap sebagai cara baru bagi perusahaan untuk mendekati konsumen dan memahami perilaku mereka.

Banyak sekali perusahaan yang menggabungkan teknik pemasaran tradisional dan digital dalam strategi mereka demi mendapatkan keuntungan dan hasil yang lebih maksimal.

Baca juga: Ketahui Apa Itu Startup Digital dan Perkembangannya di Indonesia

Contoh Digital Marketing

Banyak sekali contoh digital marketing yang dapat kamu ditemui pada zaman sekarang. Beberapa contoh digital marketing yang paling umum dilakukan adalah content marketing, social media marketing, email marketing, hingga SEO. Semua strategi digital marketing tersebut melibatkan teknologi yang harus diakses secara online.

Pengertian Offline Marketing

Istilah offline marketing mengacu pada strategi pemasaran yang dilakukan tanpa terhubung ke jaringan internet. Artinya, offline marketing adalah jenis pemasaran tradisional yang biasa dilakukan sebelum munculnya internet.

Walaupun kita sudah berada di era yang sudah hampir seluruhnya digital, tetapi offline marketing juga masih tetap memiliki efek yang baik apabila dilakukan dengan cara yang tepat.

Contoh Offline Marketing

Zaman sekarang ini, sudah tidak begitu banyak perusahaan yang menerapkan strategi offline marketing untuk memasarkan produknya. Beberapa contoh offline marketing yang masih dapat ditemui antara lain: iklan di TV atau radio, brosur, serta baliho.

Sebelumnya, iklan yang dipasangkan pada majalah atau koran juga sering dilakukan. Namun, popularitas media cetak yang menurun membuat iklan di majalah atau koran makin jarang digunakan.

Baca juga: Memahami Experiential Marketing

7 Perbedaan Digital dan Offline Marketing

Dalam penerapannya, digital dan offline marketing memiliki cara dan platform yang benar-benar berbeda. Berikut beberapa perbedaan digital dan offline marketing yang perlu kamu ketahui.

1. Jangkauan

Perbedaan yang paling mencolok dari digital marketing dan offline marketing adalah jangkauannya. Melalui penggunaan internet yang dapat menghubungkan orang-orang dari seluruh dunia, digital marketing jelas dapat menjangkau jauh lebih banyak orang.

Sementara itu, offline marketing hanya dapat menjangkau orang-orang yang berada di daerah di mana pemasaran dilakukan.

Sebagai contoh, perusahaan A melakukan digital marketing melalui media sosial. Setiap orang yang memiliki internet dan menggunakan media sosial tersebut, akan dapat melihat pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan A.

Sementara itu, perusahaan B melakukan offline marketing melalui iklan di TV. Maka, hanya orang-orang yang berada di daerah atau negara di mana saluran TV tersebut berada yang dapat melihat iklan tersebut.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Concentrated Marketing

2. Fokus Strategi Pemasaran

Dalam memasarkan produknya, digital marketing akan lebih fokus terhadap jenis konten yang digunakan daripada isinya.

Di sisi lain, offline marketing akan lebih fokus untuk membuat isi dari iklan yang dibuatnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa digital marketing biasa menggunakan metode soft selling, sedangkan offline marketing lebih banyak memanfaatkan metode hard selling.

Berkat jangkauannya yang lebih luas, digital marketing memang harus lebih fokus untuk menarik perhatian orang-orang terlebih dahulu.

Selain itu, digital marketing juga cenderung lebih mudah dan murah untuk dilakukan, setiap orang dapat melakukannya secara gratis dan hanya memerlukan akses internet.

Oleh karena itu, persaingannya juga makin berat, apalagi jika kamu tidak dapat menarik perhatian orang-orang melalui jenis konten yang dibuat.

Berbeda dari digital marketing, offline marketing memang lebih sulit dan mahal untuk dilakukan. Namun, orang-orang sudah pasti dapat melihat atau mendengar iklan yang dipasang, seperti ketika menonton TV, mendengarkan radio, hingga ketika di jalan dan melihat baliho.

Oleh karena itu, isi dari iklan tersebut harus lebih difokuskan karena orang-orang memang sudah pasti akan melihat iklan tersebut.

Baca juga: Mengenal Performance Management Agar Kinerja Karyawan Dapat Ditingkatkan

3. Media Pemasaran

Perkembangan teknologi dan digitalisasi yang terjadi saat ini membuat digital marketing memiliki jauh lebih banyak pilihan saluran yang dapat digunakan untuk membuat iklan di media.

Sementara itu, media yang biasa digunakan untuk melakukan offline marketing makin berkurang seiring dengan perkembangan zaman.

Ada banyak sekali platform atau media yang dapat digunakan untuk memasarkan produk secara digital, seperti media sosial, e-commerce, hingga mesin pencari (search engine optimization).

Bahkan, media sosial sendiri saja sudah memiliki banyak sekali pilihan di dalamnya, seperti twitter, Facebook, Instagram, YouTube, hingga LinkedIn dan TikTok yang mulai populer belakangan ini.

Di sisi lain, offline marketing sudah makin kehilangan media untuk melakukannya. Kepopuleran media cetak makin berkurang seiring dengan perkembangan media digital yang lebih mudah diakses.

Selain itu, bahkan iklan radio, pemasangan baliho, dan pembagian brosur juga sudah makin kehilangan efektifitasnya. Satu-satunya yang masih cukup efektif untuk digunakan adalah iklan di TV, tetapi biayanya sangat mahal.

4. Target Pasar

Adapun target pasar dari digital marketing cenderung lebih efektif dalam mencapai audiens yang berbasis online, terutama generasi milenial dan generasi Z. Pelaku pemasaran dapat menargetkan calon pelanggan berdasarkan perilaku online mereka, minat, demografi, dan preferensi mereka.

Sementara target pemasaran offline lebih berfokus pada audiens lokal atau regional. Metode ini lebih cocok untuk menjangkau audiens yang kurang aktif secara online atau yang lebih responsif terhadap media tradisional.

perbedaan digital dan offline marketing, 3 Perbedaan Digital dan Offline Marketing yang Penting

5. Interaksi dan Keterlibatan

Pemasaran digital memungkinkan interaksi dan keterlibatan (engagement) yang lebih langsung antara pelaku bisnis dan konsumen. Melalui platform online, konsumen dapat memberikan umpan balik (feedback), mengomentari, berbagi, dan berinteraksi dengan merek secara real-time.

Sedangkan pemasaran offline sering kali melibatkan interaksi tatap muka, seperti di acara promosi, pameran dagang, atau pertemuan langsung. Keunggulannya dalam kegiatan pemasaran tatap muka cenderung lebih emosional dan pribadi.

Baca juga: Marketing Mix: Arti, Variable, dan Contohnya

6. Pengukuran dan Analisis

Perbedaan berikutnya adalah dari segi pengukuran dan analisis. Pemasaran digital menyediakan berbagai alat (tools) dan metrik untuk mengukur kinerja kampanye, seperti jumlah tampilan, klik, konversi, interaksi sosial, dan tingkat pembelian.

Data ini dapat digunakan untuk menganalisis dan mengoptimalkan strategi pemasaran berikutnya.

Sementara pengukuran dalam pemasaran offline cenderung lebih sulit. Pelaku pemasaran harus mengandalkan survei, penelitian pasar, atau indikator seperti penjualan langsung untuk mengukur dampak kampanye.

7. Fleksibilitas dan Biaya

Yang terakhir adalah soal fleksibilitas dan biaya yang dianggarkan. Digital marketing cenderung lebih fleksibel dan mudah disesuaikan dengan perubahan kebutuhan dan target audiens.

Selain itu, biaya kampanye digital dapat disesuaikan dengan anggaran yang tersedia dan lebih terjangkau dibandingkan dengan pemasaran offline.

Sedangkan pemasaran offline sering kali memerlukan anggaran yang lebih besar untuk mencakup biaya produksi materi promosi fisik dan media tradisional. Perubahan kampanye offline juga mungkin memerlukan perencanaan yang lebih lama.

Demikianlah perbedaan digital dan offline marketing yang memang makin terlihat seiring dengan perkembangan teknologi. Pada era sekarang ini, digital marketing memang jauh lebih superior dan efektif untuk dilakukan.

Jika pemasaran yang dilakukan saja sudah digital, maka cara bekerja pun sudah harus mulai digital. Yuk digitalisasi pekerjaan dengan software HRD dari StaffAny sekarang juga!

Like this article?

Share on Facebook
Share on LinkedIn
WhatsApp

Related article

Leave a comment